Anda tahu, saya baru saja membaca kembali tentang Depresi Besar dan saya mengerti mengapa kisah ini masih relevan bagi mereka yang bekerja di pasar keuangan. Sepertinya ini adalah kisah kuno dari tahun 1929, tetapi mekanisme keruntuhan diulang lagi dan lagi.



Semua dimulai dari hal sederhana - orang kehilangan akal. Di pasar saham ada spekulasi sedemikian rupa sehingga harga saham tidak memiliki hubungan apa pun dengan nilai aset yang sebenarnya. Ketika pada Oktober 1929 para investor akhirnya menyadari bahwa ada yang tidak beres, terjadi apa yang disebut 'Selasa Hitam'. Harga jatuh secara tajam, jutaan orang kehilangan semua tabungan mereka dalam satu hari. Banyak yang meminjam uang untuk berdagang - dan semuanya bangkrut secara bersamaan.

Tapi yang paling menarik dari Depresi Besar adalah bukan keruntuhannya sendiri, tetapi apa yang terjadi setelahnya. Kepanikan menyebar ke bank-bank. Orang-orang berlari untuk menarik uang mereka, bank-bank tutup satu demi satu, dan ini menciptakan lingkaran setan. Tidak ada uang di bank - tidak ada kredit untuk bisnis. Tidak ada kredit - bisnis tutup. Bisnis tutup - orang-orang di-PHK. Orang-orang di-PHK - mereka tidak mampu membayar tagihan. Mengerti logikanya?

Perdagangan dunia juga ambruk. Amerika memberlakukan tarif Smoot-Hawley untuk melindungi produksi lokal, tetapi ini hanya memicu langkah balasan dari negara lain. Akibatnya volume perdagangan turun sebesar 66 persen. Bayangkan? Dua pertiga dari seluruh perdagangan dunia menghilang.

Pengangguran di beberapa negara mencapai 25 persen. Ini bukan sekadar angka - ini orang-orang yang tidak mampu membeli roti, yang tinggal di kota tenda, yang mengantri untuk makanan gratis. Ribuan perusahaan tutup, dari toko kecil hingga raksasa industri besar.

Keluar dari Depresi Besar memakan waktu bertahun-tahun. Roosevelt meluncurkan 'New Deal' - program besar pekerjaan pemerintah dan reformasi. Pemerintah mulai mengasuransikan simpanan di bank, mengatur pasar saham, menciptakan jaminan sosial. Tapi jujur saja? Ekonomi benar-benar bangkit kembali hanya ketika Perang Dunia II dimulai dan pemerintah mulai berinvestasi dalam produksi persenjataan dan infrastruktur.

Apa yang saya pelajari dari kisah ini? Depresi Besar menunjukkan betapa rapuhnya sistem keuangan jika tidak dikendalikan. Spekulasi, kepanikan, kurangnya regulasi - ini adalah koktail yang meledak. Dan meskipun sejak tahun 1930-an banyak yang berubah, pelajaran dari Depresi Besar tetap relevan. Setiap kali melihat kenaikan harga yang tidak beralasan atau kepanikan massal di pasar, kita sadar bahwa sejarah cenderung berulang. Itulah mengapa penting untuk mengingat periode ini - bukan sebagai kisah kuno, tetapi sebagai peringatan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan