Ada kisah yang bikin gw mikir keras tentang konsep "rumah". Mehran Karimi Nasseri—nama yang mungkin terdengar asing, tapi ceritanya absurd banget. Orang ini literally tinggal di bandara Charles de Gaulle Paris selama 18 tahun. Bukan karena pilihan, tapi karena dia terjebak tanpa dokumen yang sah.



Yang paling menarik? Bahkan setelah akhirnya mendapat status pengungsi, Mehran Karimi Nasseri masih memilih untuk tetap berada di sana. Gw serius. Dia punya kesempatan untuk pergi, tapi malah stay. Ini bukan cerita sedih biasa—ini tentang bagaimana seseorang bisa menemukan "rumah" di tempat yang paling tidak terduga sekalipun.

Pikir tentang Mehran Karimi Nasseri ini membuat gw realize sesuatu. Rumah itu bukan tentang alamat atau koordinat geografis. Bisa jadi rumah itu tentang rutinitas, tentang orang-orang yang kenal kamu, tentang tempat di mana kamu merasa punya peran. Di bandara itu, dia punya struktur, dia punya identitas—meski terbatas.

Story ini jadi viral dan bahkan diangkat jadi film (The Terminal), tapi yang paling menggigit adalah pertanyaan yang ditinggalkan: apa sih yang membuat suatu tempat terasa seperti rumah? Untuk Mehran Karimi Nasseri, jawabannya ternyata bukan destinasi akhir, tapi transisi yang menjadi permanent. Wild, kan?
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan