Pada 24 Juni 2026, pasar emas global melanjutkan tren penurunan. Harga spot emas sempat turun hingga USD 4.058 per ons, anjlok lebih dari USD 100 dari level tertinggi hari perdagangan sebelumnya. Saat artikel ini ditulis, harga emas London tercatat di USD 4.080,35 per ons, turun 1,02% dalam sehari; kontrak berjangka emas New York turun di bawah USD 4.080 per ons, melemah 1,67% secara intraday. Pada sesi sebelumnya, harga emas sudah turun 1,7%, menandai penutupan terendah dalam dua minggu terakhir.
Penurunan terbaru ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan aksi militer terhadap Iran, harga emas telah terkoreksi sekitar 23% secara total. Dari rekor tertinggi di bulan Januari hingga penurunan menuju level USD 4.000 pada Juni, emas mengalami koreksi tajam dan langka dalam empat bulan terakhir. Selama ini, emas dipandang sebagai lindung nilai inflasi dan aset safe haven, lalu mengapa harga emas terus melemah di tengah perang yang masih berlangsung dan inflasi yang persisten? Artikel ini akan menganalisis logika di balik volatilitas harga emas saat ini dari tiga perspektif: perubahan kebijakan The Fed, memudarnya premi risiko geopolitik, dan guncangan likuiditas lintas pasar.
Resonansi Tekanan Tiga Arah—Pendorong Turunnya Emas di Bawah USD 4.100 pada Juni 2026
Pergeseran Hawkish The Fed: Dari "Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga" ke "Penetapan Kenaikan Suku Bunga"—Pembalikan Total
Pendorong utama yang menekan harga emas saat ini adalah pembalikan fundamental ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.
Pada dini hari 18 Juni (waktu Beijing), Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat memutuskan dengan suara 12-0 untuk mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds di 3,50% hingga 3,75%. Namun, yang benar-benar mengguncang pasar adalah rilis bersamaan Ringkasan Proyeksi Ekonomi The Fed. Dot plot menunjukkan sembilan pejabat memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2026, hanya satu yang memperkirakan penurunan, dan delapan memperkirakan suku bunga tetap. Proyeksi median suku bunga federal funds 2026 naik dari 3,4% pada Maret menjadi 3,8%, menandakan pasar kini harus memperhitungkan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun ini.
Lebih penting lagi, terjadi perubahan struktural dalam kebijakan. Di bawah kepemimpinan Ketua baru Walsh, pernyataan kebijakan menghapus panduan ke depan dan menekankan bahwa tindakan selanjutnya sepenuhnya akan bergantung pada data, secara langsung membalikkan konsensus pasar sebelumnya mengenai "pemangkasan suku bunga tahun ini". Pernyataan kebijakan moneter juga dipangkas secara signifikan, dan lima kelompok kerja baru dibentuk—mencakup komunikasi, neraca, data, produktivitas dan ketenagakerjaan, serta kerangka inflasi—yang membentuk ulang kerangka kebijakan dari dasar. Pesan pasar: suku bunga tinggi akan bertahan dalam waktu yang dapat diperkirakan.
Perubahan ekspektasi ini dengan cepat tercermin dalam harga pasar. Berdasarkan alat FedWatch CME, pelaku pasar kini melihat probabilitas 86% kenaikan suku bunga pada Desember, melonjak dari 61% sebelum pertemuan Juni. Kontrak berjangka federal funds AS menunjukkan peluang 76% kenaikan pada September. Beberapa institusi bahkan menaikkan proyeksi mereka—Deutsche Bank memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali, pada September dan Desember, total 50 basis poin; sebagian bahkan memperkirakan hingga tiga kali kenaikan pada paruh kedua tahun ini.
Bagi emas, perubahan ekspektasi suku bunga secara langsung memengaruhi mekanisme harga intinya—biaya peluang. Emas tidak menghasilkan bunga, sehingga ketika suku bunga riil naik, biaya peluang memegang emas juga meningkat. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun yang dilindungi inflasi kini jauh lebih tinggi dibanding Februari, menyebabkan arus keluar bersih dari ETF emas—salah satu alasan utama koreksi harga emas baru-baru ini. Indeks Dolar AS pun melonjak, menembus 101 pada 24 Juni dan mencapai level tertinggi dalam satu tahun. Dolar yang lebih kuat membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan lebih lanjut.
Geopolitik sebagai "Pedang Bermata Dua": Perang Meningkatkan Ekspektasi Inflasi, Melemahkan Daya Tarik Safe Haven Emas
Pada paruh pertama 2026, konflik Timur Tengah menjadi tema utama pasar emas. Pada akhir Februari, AS dan Israel berperang dengan Iran, mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz dan mendorong harga minyak internasional melonjak. Secara teori, perang seharusnya meningkatkan permintaan safe haven emas. Namun, tren yang terjadi justru sebaliknya—harga emas turun sekitar 26% selama konflik.
Kontradiksi ini menyoroti perubahan mendasar dalam logika harga emas. Menurut laporan riset Galaxy Securities, konflik geopolitik pada paruh pertama 2026 mendorong harga minyak naik dan memicu ekspektasi inflasi, sehingga fokus pasar bergeser dari ekspektasi pemangkasan suku bunga ke penetapan kenaikan suku bunga tahun ini. Dengan kata lain, perhatian utama pasar bukan pada perang itu sendiri, melainkan dampak inflasi dan pengaruhnya terhadap kebijakan moneter. Seperti dikatakan seorang analis: "Kita sedang menyaksikan proses di mana emas justru tertekan oleh perang—kenaikan inflasi mendorong kenaikan suku bunga, yang tercermin dalam obligasi yang jatuh, imbal hasil naik, dolar menguat, dan akhirnya harga emas turun."
Memasuki Juni, lanskap geopolitik kembali berubah. Pada 14 Juni, AS dan Iran mengonfirmasi kesepakatan damai sementara, dan pengiriman melalui Selat Hormuz berangsur pulih. Seiring masuknya kesepakatan AS-Iran ke tahap implementasi, permintaan safe haven yang sempat dipicu oleh konflik Timur Tengah dan gangguan pasokan minyak mulai memudar. Fokus pasar pun beralih dari risiko geopolitik ke kebijakan moneter AS.
Namun, ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang. AS dan Iran masih berselisih soal detail penting—Trump mengklaim Iran setuju pada inspeksi nuklir "tanpa batas", sementara Iran membantah telah memberikan konsesi tersebut dalam negosiasi. Kedua pihak juga berbeda pandangan terkait penggunaan aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Sinyal yang bertentangan ini membuat pasar tetap berhati-hati terhadap keberlanjutan kesepakatan damai. Beberapa analis mencatat, jika pembicaraan AS-Iran berlanjut dalam waktu dekat, premi risiko bisa turun lebih jauh; namun jika ketegangan kembali memanas, emas bisa kembali mendapat dukungan.
Secara tradisional, emas adalah aset safe haven saat gejolak geopolitik, namun dalam siklus kali ini, investor lebih khawatir pada dampak inflasi dari konflik Iran—perang ini mendorong harga minyak melonjak, dan pasar khawatir inflasi berbasis energi akan memaksa bank sentral mempertahankan pengetatan lebih lama.
Guncangan Likuiditas Lintas Pasar: Bagaimana Koreksi Saham Teknologi "Menguras" Emas
Pemicu lain yang mempercepat penurunan emas pada 24 Juni adalah guncangan likuiditas yang berasal dari pasar saham.
Reli saham AS yang didorong euforia AI kini dinilai sudah terlalu tinggi, dan saham teknologi AS mengalami koreksi tajam. Indeks Nasdaq anjlok, dan Indeks Semikonduktor Philadelphia turun 7,8%. Koreksi saham teknologi tak hanya memicu aversi risiko—tetapi juga menciptakan tekanan likuiditas lintas pasar, di mana investor menjual emas untuk menutup kerugian di tempat lain, sehingga aset safe haven pun ikut terseret turun.
Ini adalah dilema klasik bagi emas sebagai "aset safe haven" di lingkungan pasar ekstrem: emas memang bisa menjadi pelindung saat risiko sedang, namun dalam aksi jual besar-besaran yang bersifat sistemik, emas juga bisa menjadi sumber likuiditas. Untuk memenuhi margin call atau mengurangi risiko portofolio secara keseluruhan, investor kerap menjual semua aset likuid, termasuk emas.
Pasar Korea menjadi contoh ekstrem. Pada 23 Juni, Indeks KOSPI anjlok 10% dalam sehari, memicu circuit breaker selama 20 menit dan menjadi penurunan terbesar dalam tiga bulan. Aksi jual global pada aset berisiko semakin meningkatkan permintaan dolar AS sebagai safe haven, mempercepat arus modal ke aset dolar dan memberi tekanan tambahan pada emas.
Perbedaan Pandangan Institusi Makin Tajam: Penurunan Target vs. Logika Bullish Jangka Panjang
Seiring berlanjutnya koreksi emas, bank-bank investasi besar kian terbelah dalam proyeksi mereka.
Perubahan sikap Goldman Sachs paling mencolok. Sebagai salah satu institusi paling bullish terhadap emas, Goldman memangkas target akhir tahun 2026 dari USD 5.400 menjadi USD 4.900 per ons—pemangkasan USD 500. Alasan utama: ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini sudah pupus. Para analis menyebut, seiring ekspektasi pelonggaran The Fed mundur ke 2026 atau lebih, arus masuk ke ETF emas kemungkinan melambat. Namun, Goldman juga mencatat pembelian bank sentral tetap menjadi faktor penopang, dengan proyeksi pembelian sektor resmi sekitar 50 ton per bulan tahun ini.
J.P. Morgan mengambil posisi lebih optimistis. Tim riset global bank ini memproyeksikan harga emas rata-rata USD 6.000 per ons pada kuartal IV 2026, naik ke USD 6.300 di akhir 2027. J.P. Morgan menilai jika suku bunga riil turun dan bank sentral kembali membeli emas, potensi kenaikan emas akan terbuka lagi. Namun, bank ini juga mengakui minat investor belakangan menurun, dengan emas "saat ini berada di zona teknikal yang tidak pasti."
Barclays tetap bullish dalam jangka menengah. Bank ini mempertahankan proyeksi harga emas di USD 4.791 untuk 2026 dan USD 4.900 untuk 2027. Tim Barclays memperkirakan kenaikan Indeks Dolar dan rebound 10% S&P 500 menyumbang sekitar 10% dari penurunan emas, sisanya akibat unwinding posisi pasar emas. Namun, faktor-faktor ini dinilai hanya sementara; pendorong struktural emas—seperti inflasi persisten, ketidakpastian kebijakan, dan diversifikasi cadangan yang berkelanjutan—masih tetap kuat. Barclays memperkirakan nilai wajar emas saat ini sekitar USD 4.150 per ons.
Wells Fargo juga menaikkan proyeksi harga emasnya. Bank ini memperkirakan emas akan mencapai USD 5.300–USD 5.500 di akhir 2026, dan USD 5.800–USD 6.000 di akhir 2027.
Singkatnya, meski institusi arus utama belum sepenuhnya bearish terhadap prospek jangka panjang emas, logika harga jangka pendek telah bergeser dari "safe haven geopolitik" ke "sensitivitas suku bunga". Seperti dikatakan tim Barclays: "Terlepas dari volatilitas baru-baru ini, jika ada waktu emas diperdagangkan dengan premi, maka saat inilah momennya."
Kesimpulan
Pada 24 Juni 2026, penembusan harga emas di bawah USD 4.100 merupakan hasil konvergensi berbagai faktor: perubahan fundamental The Fed dari "ekspektasi pemangkasan" ke "penetapan kenaikan suku bunga" menjadi hambatan makro utama; geopolitik bergeser dari "pemicu safe haven" menjadi transmisi "inflasi ke kenaikan suku bunga", membentuk ulang logika penetapan risiko emas; dan guncangan likuiditas lintas pasar akibat koreksi saham teknologi mempercepat penurunan jangka pendek emas di tingkat mikro.
Namun, narasi jangka menengah hingga panjang emas tetap utuh. Berdasarkan laporan World Gold Council tanggal 16 Juni, "Survei Cadangan Emas Bank Sentral Global 2026", sebanyak 89% bank sentral yang disurvei memperkirakan cadangan emas resmi global masih akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, dan 45% menyatakan institusi mereka berencana menambah kepemilikan emas—rekor tertinggi. Kini, 93% bank sentral memegang emas, naik dari 81% tahun lalu. Pembelian bank sentral yang berkelanjutan, didorong strategi diversifikasi cadangan, tetap menjadi sumber permintaan emas yang paling stabil.
Dalam jangka pendek, pasar akan fokus pada rilis Indeks Harga PCE AS hari Kamis—indikator inflasi favorit The Fed—untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut arah kebijakan moneter. Jika data inflasi di atas ekspektasi, spekulasi kenaikan suku bunga akan menguat dan emas bisa menguji level USD 4.000 atau bahkan lebih rendah; jika inflasi mulai mereda, emas mungkin mendapat jeda sementara. Apa pun hasilnya, hingga arah kebijakan The Fed menjadi lebih jelas, volatilitas tinggi di pasar emas kemungkinan masih akan berlanjut.
FAQ
T: Berapa harga emas pada 24 Juni 2026?
Harga spot emas sempat turun ke USD 4.058 per ons dan tercatat USD 4.080,35 per ons saat publikasi, turun sekitar 1% dalam sehari. Kontrak berjangka emas New York turun di bawah USD 4.080 per ons, melemah 1,67% secara intraday. Pada sesi sebelumnya, emas turun 1,7%, menandai penutupan terendah dalam dua minggu terakhir.
T: Mengapa emas sebagai aset safe haven justru turun?
Ada tiga faktor utama yang menekan emas: ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang mendorong dolar dan suku bunga riil naik, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas; kesepakatan AS-Iran telah memangkas premi risiko geopolitik; dan aksi jual saham teknologi memicu tekanan likuiditas lintas pasar, di mana investor menjual emas untuk menutup kerugian di tempat lain. Dalam aksi jual sistemik, emas juga bisa menjadi sumber likuiditas.
T: Bagaimana ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed memengaruhi emas?
Emas adalah aset tanpa imbal hasil. Ketika suku bunga naik, biaya peluang memegang emas meningkat, sehingga daya tarik investasinya menurun. Pasar saat ini memperhitungkan setidaknya satu kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, dengan peluang 76% kenaikan pada September. Indeks Dolar AS menembus 101, mencapai level tertinggi satu tahun, memberi tekanan besar pada harga emas.
T: Bagaimana proyeksi harga emas institusi besar untuk 2026?
Institusi besar terbelah. Goldman Sachs menurunkan target akhir tahun menjadi USD 4.900 per ons; J.P. Morgan memproyeksikan rata-rata USD 6.000 pada kuartal IV dan USD 6.300 di akhir 2027; Barclays mempertahankan proyeksi USD 4.791; Wells Fargo memperkirakan USD 5.300–USD 5.500 di akhir tahun.
T: Apa variabel kunci yang perlu diperhatikan untuk prospek emas?
Variabel inti meliputi: arah kebijakan The Fed (terutama data inflasi), implementasi dan keberlanjutan kesepakatan AS-Iran serta premi risiko geopolitik, laju pembelian emas oleh bank sentral global, dan efek likuiditas lintas pasar akibat volatilitas saham teknologi. Pasar umumnya memperkirakan emas bisa menguji level USD 4.000 sebelum stabil.




