Serangan terhadap Kapal di Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Mentah di Atas $73: Bagaimana Risiko Geopolitik Mempengaruhi Pasar Kripto

Pasar
Diperbarui: 26/06/2026 08:41

Pada 25 Juni 2026 waktu setempat, kapal kontainer berbendera Singapura "Chang Yue" terkena serangan drone saat melintasi Selat Hormuz, yang menyebabkan kerusakan pada sisi kanan jembatan kapal. Dua pejabat senior Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Beberapa jam sebelum insiden, Angkatan Laut IRGC telah mengeluarkan peringatan di media sosial, menuntut agar seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC. Kapal yang tidak mematuhi akan "menghadapi konsekuensi." Administrasi Selat Teluk Persia Iran kemudian merilis pernyataan yang menegaskan bahwa segala konsekuensi akibat pelayaran tanpa izin akan menjadi tanggung jawab pemilik kapal, operator, dan kapten.

Waktu terjadinya serangan ini sangat sensitif—hanya seminggu sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulai jendela negosiasi selama 60 hari. Organisasi Maritim Internasional (IMO) segera menangguhkan operasi evakuasi untuk kapal-kapal yang terdampar pasca serangan tersebut. Iran juga mengisyaratkan niatnya untuk menerapkan sistem tol ala Dardanella bagi kapal yang melintas, yang berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar USD 40 miliar per tahun. Perkembangan ini menunjukkan bahwa perebutan kendali atas Selat Hormuz kini bergeser dari konfrontasi militer menuju tahap regulasi institusional yang baru.

Reaksi Cepat di Pasar Minyak Mentah dan Kembalinya Premi Geopolitik

Berita serangan tersebut memicu rebound cepat pada kontrak berjangka minyak mentah internasional. Pada 26 Juni, harga WTI sempat menembus USD 73 per barel sebelum akhirnya ditutup naik 2,19% di USD 72,01 per barel; Brent ditutup naik 2,39% di USD 75,18 per barel. Sehari sebelum serangan—25 Juni—WTI anjlok 4,56% ke USD 69,87 per barel, level terendah sejak 2 Maret. Fluktuasi tajam ini, dari penurunan lebih dari 4% menjadi rebound lebih dari 2% keesokan harinya, secara jelas menggambarkan kembalinya penetapan harga risiko geopolitik setelah periode penurunan.

Untuk memahami volatilitas harga ini, penting untuk meninjau kembali logika di balik pelepasan premi geopolitik sebelumnya. Pada 23 Juni, setelah Selat Hormuz secara resmi dinyatakan terbuka sepenuhnya untuk pelayaran komersial global, pasar secara sistematis menghapus "premi perang" dari harga minyak. Menurut Shenwan Futures, premi geopolitik sebesar USD 20–25 per barel yang terbentuk akibat konflik sebelumnya dengan cepat menguap. Berdasarkan Indeks Premi Risiko Geopolitik Minyak Mentah (GPR Index), premi panik yang dapat dilepas (alfa) telah turun ke nol, menyisakan hanya USD 6,67 premi geopolitik residual dalam harga Brent.

Serangan itu sendiri menyoroti rapuhnya asumsi "premi nol" ini. Selat Hormuz menangani sekitar 20% pengiriman minyak dunia. Ancaman nyata terhadap keselamatan pelayaran langsung memicu lonjakan harga akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Rebound harga minyak mengingatkan pasar: premi risiko geopolitik bisa ditekan, namun tidak pernah benar-benar hilang—selama sengketa fundamental atas kendali belum terselesaikan, risiko ekor gangguan pasokan tetap ada.

Kinerja Lemah Bitcoin dan Peninjauan Ulang Status Aset Lindung Nilai

Berlawanan dengan rebound kuat minyak mentah, Bitcoin justru terus tertekan. Per 26 Juni 2026, data pasar Gate menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 59.592, dengan level terendah 24 jam di USD 59.480. Ini menandai penurunan lebih dari 52% dari rekor tertinggi Oktober 2025 di USD 126.223. Data Gate Research menunjukkan bahwa Bitcoin sempat turun ke USD 58.106,9 sebelum rebound ke sekitar USD 59.800, namun tetap gagal menembus level USD 60.000.

Tren ini memunculkan pertanyaan mendasar: Jika risiko geopolitik meningkat dan aset lindung nilai tradisional (emas) serta komoditas strategis (minyak mentah) didukung oleh kenaikan harga, mengapa Bitcoin tidak ikut mendapatkan keuntungan?

Data historis memberikan perspektif. Setelah konflik AS-Iran pecah pada Februari 2026, Bitcoin turun dari USD 73.000 ke bawah USD 60.000 hanya dalam beberapa minggu. Dalam krisis geopolitik besar, Bitcoin berulang kali kalah performa dibanding emas—baik saat serangan AS-Israel ke Iran pada 2026 maupun perang Rusia-Ukraina pada 2022, Bitcoin mengalami penurunan. Hasil empiris ini secara konsisten menunjukkan bahwa Bitcoin lebih berperilaku sebagai aset berisiko daripada aset lindung nilai.

Lingkungan pasar saat ini semakin memperkuat pandangan tersebut. Sejak awal 2026, Bitcoin berada dalam tren penurunan sistematis, turun stabil dari atas USD 70.000 pada Januari. Dalam kondisi likuiditas yang mengetat dan penarikan modal institusional, respons Bitcoin terhadap peristiwa geopolitik telah bergeser dari narasi "emas digital" menjadi "aset teknologi ber-beta tinggi"—kenaikan risiko geopolitik tidak hanya gagal mengangkat Bitcoin, tetapi justru dapat memperkuat tekanan jual pada aset berisiko.

Reaksi Kompleks Emas dan Tarik-Ulur Antara Dua Atribut

Kinerja emas dalam episode ini lebih bernuansa. Sebelum serangan, harga spot emas anjlok pada 24 Juni, turun di bawah level USD 4.000 dan ditutup di USD 3.991,7 per ons—sekitar 30% di bawah rekor awal tahun di USD 5.598,75. Pada 26 Juni, setelah rilis data PCE, emas spot kembali menembus USD 4.000 dan akhirnya ditutup naik 0,64% di USD 4.026,78 per ons.

Pergerakan harga emas dipengaruhi dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, kenaikan risiko geopolitik secara teori mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai—lonjakan harga jangka pendek pasca serangan mencerminkan logika ini. Namun di sisi lain, penurunan tajam sebelumnya mengungkap fakta kunci: di pasar 2026, faktor likuiditas telah melampaui risiko geopolitik sebagai penggerak utama harga. Bahkan di tengah ketegangan regional yang meningkat, emas tidak serta-merta melonjak, melainkan memasuki periode pemulihan yang volatil.

"Respons ganda" emas ini menyoroti identitas gandanya—sebagai lindung nilai geopolitik sekaligus aset yang sensitif terhadap likuiditas. Ketika ekspektasi rekonsiliasi AS-Iran mendorong pelepasan premi geopolitik, emas menghadapi tekanan serupa dengan minyak mentah. Ketika serangan kembali menghadirkan ketidakpastian, kualitas lindung nilai emas kembali aktif. Tarik-ulur ini menunjukkan bahwa logika penetapan harga emas dalam lingkungan makro saat ini sedang direstrukturisasi, bukan sekadar kembali ke paradigma "lindung nilai masa perang".

Mekanisme Transmisi Berbeda pada Tiga Kelas Aset

Respons berbeda dari minyak mentah, Bitcoin, dan emas terhadap peristiwa geopolitik yang sama mengungkap perbedaan mendasar dalam mekanisme transmisi risiko pada tiap kelas aset.

Transmisi pada minyak mentah adalah yang paling langsung. Selat Hormuz merupakan titik leher botol fisik pasokan, dan serangan tersebut secara langsung mengancam transit harian sekitar 20 juta barel minyak. Risiko gangguan pasokan dapat dengan cepat diterjemahkan ke dalam kenaikan harga spot, dengan rantai transmisi yang hanya bergantung pada variabel nyata dan terukur—apakah kapal bisa lewat, perlindungan asuransi, dan keamanan jalur semua dapat diukur dan dihargai secara langsung.

Transmisi pada emas melibatkan jalur langsung dan tidak langsung. Permintaan lindung nilai secara langsung mendorong harga emas naik, namun faktor tidak langsung seperti ekspektasi inflasi, suku bunga riil, dan pergerakan dolar juga berperan besar. Ketika serangan bertepatan dengan ekspektasi kebijakan The Fed (seperti data PCE), arah harga emas bergantung pada kekuatan mana yang lebih dominan.

Transmisi pada Bitcoin sangat tidak langsung. Bitcoin tidak memiliki kendala pasokan-permintaan fisik yang ketat seperti minyak, maupun konsensus aset lindung nilai berusia ratusan tahun seperti emas. Harga Bitcoin lebih banyak digerakkan oleh ekspektasi likuiditas, selera risiko, dan arus modal. Ketika kenaikan risiko geopolitik menekan aset berisiko secara umum, Bitcoin cenderung turun alih-alih naik melawan tren.

Perbedaan mekanisme transmisi ini berarti peristiwa yang sama bisa berdampak sangat berbeda pada tiap aset. Menyamakan Bitcoin dengan "emas digital" dan bertaruh pada premi risiko geopolitik tidak didukung data empiris.

Menilai Keberlanjutan Premi Geopolitik

Pertanyaan kunci pasca serangan adalah apakah kembalinya premi geopolitik ini menandai pembalikan tren atau sekadar lonjakan sementara.

Secara fundamental, AS dan Iran masih berada dalam jendela negosiasi 60 hari. Meski serangan menguji kesepakatan awal, hal itu tidak menyebabkan kegagalan—absennya komentar langsung dari Gedung Putih justru menjadi sinyal kehati-hatian. Sementara itu, terminal ekspor minyak utama Arab Saudi telah kembali beroperasi dan pasokan di kawasan Teluk pulih dengan cepat. Ekspor minyak Teluk Persia telah kembali ke 75% dari level pra-konflik, dengan 13 juta barel dikirim dalam tiga hari terakhir.

Pemulihan pasokan ini menjadi batas atas harga minyak. Jika serangan tidak berkembang menjadi konflik militer yang lebih luas, premi geopolitik dalam harga minyak kemungkinan akan kembali ditekan. Namun, jika Iran benar-benar menerapkan "mekanisme tol transit Hormuz", maka kerangka institusional pelayaran akan berubah secara fundamental—dari "jalur air internasional bebas" menjadi "kanal berbayar". Artinya, risiko geopolitik akan berkembang dari "guncangan satu kali" menjadi "biaya institusional yang persisten". Bagi minyak mentah, ini berarti repricing struktural pada premi; bagi emas dan Bitcoin, ini menandai munculnya paradigma baru penetapan harga risiko makro.

Kesimpulan

Serangan kapal di Selat Hormuz menjadi eksperimen alami untuk mengamati bagaimana risiko geopolitik ditransmisikan pada berbagai kelas aset. Minyak mentah rebound cepat karena ancaman nyata gangguan pasokan; emas berfluktuasi antara permintaan lindung nilai dan kendala likuiditas; Bitcoin, sebagai aset berisiko, tetap tertekan dan gagal mendapat keuntungan dari ketegangan geopolitik. Tiga aset, tiga jalur transmisi—perbedaan ini sendiri menjadi bukti empiris yang melemahkan narasi "Bitcoin adalah emas digital".

Sinyal pasar saat ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum hilang, namun telah bergeser dari konflik terbuka menjadi persaingan institusional. Perebutan kendali Selat Hormuz kini bergerak dari konfrontasi militer ke instrumen institusional seperti mekanisme tol, regulasi jalur, dan aturan asuransi. Bagi pelaku pasar kripto, memahami transisi ini sangat penting: dampak risiko geopolitik pada harga aset kini bukan lagi rumus sederhana "lindung nilai = harga naik", melainkan membutuhkan penilaian berbeda berdasarkan mekanisme transmisi tiap aset.

FAQ

T: Seberapa penting Selat Hormuz bagi pasar energi global?

Selat Hormuz menangani sekitar 20% pengiriman minyak dunia, menjadikannya titik leher botol paling krusial yang menghubungkan produsen minyak Teluk Persia ke pasar dunia. Ancaman apa pun terhadap keselamatan pelayaran langsung berdampak pada ekspektasi pasokan minyak global.

T: Mengapa Bitcoin tidak naik karena permintaan lindung nilai seperti emas?

Data empiris menunjukkan bahwa Bitcoin berulang kali kalah performa dibanding emas dalam krisis geopolitik besar. Perilaku harganya lebih mirip aset berisiko daripada aset lindung nilai, didorong terutama oleh ekspektasi likuiditas dan selera risiko, bukan oleh permintaan lindung nilai geopolitik.

T: Apa variabel utama untuk proyeksi harga minyak ke depan?

Hasil negosiasi 60 hari AS-Iran, pengaturan akhir transit di Selat Hormuz, dan kebijakan produksi OPEC+ adalah tiga variabel inti. Apakah serangan akan berkembang menjadi konflik lebih luas akan menentukan apakah premi geopolitik hanya lonjakan sementara atau pembalikan tren.

T: Bagaimana investor pasar kripto sebaiknya menilai risiko geopolitik?

Investor perlu membedakan mekanisme transmisi tiap aset—minyak didorong oleh pasokan, emas oleh interaksi permintaan lindung nilai dan suku bunga, dan Bitcoin oleh likuiditas serta selera risiko. Menyamakan Bitcoin dengan "emas digital" dan memperdagangkan risiko geopolitik berdasarkan asumsi tersebut tidak didukung data historis.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten