24 Juli 2026 09:00-09:15 (UTC), BTC mengalami penurunan tajam 0,41% dalam 15 menit, dengan rentang harga 65045.5–65318.0 USDT, amplitudo 0,42%. Harga saat ini $65.127, turun sekitar 0,87% dalam 24 jam terakhir; harga sempat terhambat lalu melemah di sekitar level resistensi kunci $68.000. Volatilitas pasar meningkat, namun volume perdagangan secara keseluruhan tetap pada level normal 512,58 BTC/jam, tanpa lonjakan volume yang bersifat panik.
Pemicu utama pergerakan kali ini adalah eskalasi menyeluruh konflik militer AS–Iran. Iran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap pangkalan militer AS di Qatar, Yordania, Bahrain, Irak, dan Kuwait; AS membalas dengan pembom B-1 untuk menyerang infrastruktur militer Iran serta memulihkan blokade di laut terhadap Iran. Risiko geopolitik melonjak dan menekan preferensi aset berisiko. Selain itu, Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali kapal yang melintasi Selat Hormuz diserang Iran, sehingga konflik berpotensi meningkat lebih lanjut.
Kedua, harga minyak mentah mendekati $100 yang mendorong ekspektasi inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Minyak mentah Brent menembus $100 per barel; pasar mematok peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September. Kenaikan ekspektasi suku bunga memberikan tekanan pada valuasi aset tanpa bunga seperti BTC. Emas turun 0,4% dari posisi tertinggi dua pekan terakhir ke $4.030, sementara perak jatuh 4%; logam mulia safe haven turut tertekan, dan narasi “emas digital” pada BTC ikut melemah. Di sisi order book, tekanan jual terkonsentrasi; rasio beli-jual 0,44 menunjukkan penjual jauh lebih dominan. Rata-rata bergerak level 4 jam beralih ke arah turun, selaras dengan bias teknis yang cenderung bearish.
Saat ini pasar belum sepenuhnya masuk mode risk-off, namun risiko jangka pendek perlu ditangani dengan hati-hati. Resistensi kunci yang perlu diperhatikan berada di kisaran $65.800 hingga $68.000, sementara dukungan di bawahnya adalah $64.651 dan level psikologis $63.000. Ke depan, perlu terus memantau apakah konflik AS–Iran meningkat, pernyataan kebijakan The Fed pada 29 Juli serta pilihan kata Powell, dan pergerakan harga minyak Brent.