Analis Chief Equity Strategist LPL Financial, Jeff Buchbinder, menelaah dampak pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat terhadap saham, dengan pemilu kini tinggal 4 bulan lagi. Analisis tersebut menunjukkan bahwa meski terjadi volatilitas pada tahun-tahun pemilihan paruh waktu, S&P 500 justru naik setelah semua 18 pemilihan paruh waktu sejak 1954, dengan rata-rata kenaikan 18,2% pada 12 bulan berikutnya. Buchbinder menyatakan bahwa sejarah memperlihatkan investor mendapat manfaat lebih besar dari fokus pada perilaku pasar ketimbang prediksi politik. Tahun-tahun pemilihan paruh waktu secara historis menunjukkan kinerja saham tahunan terlemah selama masa jabatan presiden, dengan rata-rata kenaikan 4,6% dan volatilitas tertinggi. Namun, periode 12 bulan setelah pemilihan paruh waktu secara konsisten menghadirkan tingkat pertumbuhan tahunan terkuat bagi investor.
S&P 500 Naik Setelah Semua 18 Pemilihan Paruh Waktu Sejak 1954
Menurut pemberitaan Yahoo Finance pada tanggal 23 (waktu setempat), data LPL Financial menunjukkan bahwa tahun-tahun pemilihan paruh waktu secara historis menjadi yang terlemah untuk kinerja saham tahunan selama periode empat tahun masa jabatan presiden. Kenaikan rata-ratanya hanya 4,6%, dengan penurunan rata-rata terbesar dan volatilitas tertinggi terjadi pada tahun-tahun tersebut.
Namun, periode 12 bulan setelah pemilihan paruh waktu (tahun sebelum pemilihan presiden) secara konsisten menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan terkuat, sehingga menciptakan kondisi positif bagi investor. Menengok ke belakang sejak 1954, S&P 500 naik tanpa pengecualian setelah semua 18 pemilihan paruh waktu dalam periode ini, dengan kenaikan rata-rata 18,2%.
Buchbinder menjelaskan bahwa pola ini mencerminkan kecenderungan pasar yang umum: ketika ketidakpastian memuncak menjelang pemilu dan mulai mereda setelah hasilnya diketahui. Ia menambahkan bahwa setelah investor melihat peta politik dengan jelas, mereka beralih fokus ke fundamental seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, laba perusahaan, dan kebijakan moneter.
Prakiraan LPL Financial: Skenario Kongres Terpecah
Skenario dasar LPL Financial mengantisipasi pergeseran dari kondisi saat ini, ketika Partai Republik mengendalikan kedua kamar, menjadi Kongres terpecah, dengan pembagian kontrol antara Senat dan Dewan Perwakilan.
Kongres terpecah akan menciptakan lingkungan di mana perubahan legislasi besar menurun, tetapi volatilitas meningkat seputar isu-isu inti seperti RUU anggaran pemerintah dan kenaikan plafon utang. Jika Demokrat menguasai salah satu kamar, mereka akan menghambat legislasi besar, sehingga pengesahan undang-undang penting menjadi lebih sulit dan mengalihkan fokus pada apa yang bisa dicapai Gedung Putih melalui perintah eksekutif dan lembaga pengatur.
Buchbinder Menyarankan Fokus pada Volatilitas Pasar Ketimbang Pemenang Pemilu
Buchbinder menekankan bahwa hasil pasar lebih penting daripada hasil politik, seraya mencatat bahwa risiko akan memberikan imbal hasil yang besar bagi investor yang bersedia menempatkan modal ketika ketidakpastian berada pada level tertinggi.
Ia menyatakan bahwa tahun-tahun pemilihan paruh waktu menguji kesabaran investor, dan mereka yang tetap sabar dapat diberi imbalan. Buchbinder menyarankan agar alih-alih memprediksi siapa pemenang pemilu, investor mungkin lebih diuntungkan dengan bersiap menghadapi volatilitas yang menyertai proses pemilu dan menangkap peluang yang muncul saat ketidakpastian mulai mereda.
FAQ
Pola historis apa yang ditunjukkan S&P 500 setelah pemilihan paruh waktu AS?
S&P 500 naik setelah semua 18 pemilihan paruh waktu sejak 1954, dengan rata-rata kenaikan 18,2% dalam 12 bulan setelah setiap pemilu. Pola yang konsisten ini terjadi meski tahun-tahun pemilihan paruh waktu sendiri menunjukkan kinerja saham tahunan terlemah selama masa jabatan presiden.
Skenario kontrol kongres apa yang diprakirakan LPL Financial untuk pemilihan paruh waktu mendatang?
Skenario dasar LPL Financial memprakirakan Kongres terpecah, beralih dari kontrol Partai Republik atas kedua kamar saat ini menjadi pembagian yang terpecah antara Senat dan Dewan Perwakilan. Skenario ini akan menurunkan kemungkinan perubahan legislasi besar sekaligus meningkatkan volatilitas di sekitar isu-isu inti seperti anggaran pemerintah dan negosiasi plafon utang.