Menurut Owen Lamont, manajer portofolio di Acadian Asset Management, pada 24 Juli, SK Hynix U.S. ADR (American Depositary Receipt) diperdagangkan dengan premi sekitar 50% dibandingkan saham domestik Korea-nya, mendekati level yang tidak terlihat sejak gelembung dot-com.
Lamont menyoroti kondisi ini sebagai pelanggaran Hukum Satu Harga dan memperingatkan pasar yang terlalu panas. Premi ADR telah mencapai setinggi 49%, jauh melampaui para pesaing seperti KB Financial dan Shinhan Financial (keduanya mendekati 0%) serta Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (sekitar 15%). Lamont menyamakan kesenjangan tersebut dengan gelembung dot-com tahun 2000, saat ADR perusahaan perangkat lunak India, Infosys, melonjak hingga premi 136%. Ia memperingatkan bahwa jika premi SK Hynix terus melebar, trader arbitrase bisa mengalami kerugian besar, sementara investor ritel Korea telah membeli lebih dari $500 juta ADR pada harga yang membengkak—perilaku yang ia sebut merugikan diri sendiri.