Menurut Business Insider, imbal hasil Treasury AS 10 tahun menembus 4,7% semalam pada 23 Juli, menandai level tertingginya sejak Januari 2025. Sementara itu, imbal hasil 30 tahun melonjak ke 5,18%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah yang kembali memanas serta kekhawatiran terhadap inflasi.
Brent crude oil kembali merebut level $100 per barel setelah militan Houthi mengklaim serangan terhadap kapal-kapal milik Arab Saudi, dengan AS dan Iran sama-sama menandakan akan ada aksi militer lanjutan. Art Hogan, kepala analis strategi pasar di B. Riley Asset Management, mengatakan bahwa “imbal hasil Treasury AS tidak akan turun kecuali harga minyak jatuh,” seraya menyebut ambang 4,5% sebagai level resistensi psikologis yang menandakan kekhawatiran inflasi yang serius. Scott Bukta, kepala strategi obligasi di BreanCapital, mengaitkan kenaikan tersebut dengan meningkatnya harga minyak, menambahkan bahwa jika konflik Iran berlanjut dan harga minyak mentah terus naik, imbal hasil 10 tahun dapat mencapai 4,6% hingga 4,8% pada akhir tahun.